Michelle04's Blog

rangkuman novel : LUKISAN HUJAN

Posted on: May 18, 2010

RANGKUMAN

Selama seminggu ini hujan turun deras sekali. Hawa menjadi amat dingin, membuat ngantuk. Untuk cuaca seperti ini, kegiatan yang paling enak cuma satu: tidur seharian di kasur yang empuk.

Tapi, sayangnya tidak demikian bagi Diaz.

Hari ini ia pulang sore sekali. Di kampus ada dua ujian dan presentasi–yang hasilnya gagal, hingga ia terpaksa mengulang assignment-nya itu sampai dosennya mau nerima kembali. Semalaman ia hanya tidur dua jam demi belajar serta merampungkan semua tugasnya. Dan paginya ia bela-belain nyuci mobil dan nyemir ban, biar si Cielo silver keliatan kinclong waktu ke kampus. Apa boleh buat, dari jam 10 pagi sampai sore ini hujan turun tanpa ampun. Tinggal Diaz yang melengos lesu mendapati usahanya mempercantik mobil sia-sia belaka.

Ketika akan memasuki gerbang utama perumahannya, tiba-tiba Diaz merasa mobilnya meluncur ringan sampai akhirnya berhenti. Tak dinyana, si Cielo beneran mogok. Ia sempat tak mempercayai penglihatannya, tatkala melihat meteran penunjuk suhu mesinnya.

Overheating? Kok, bisa?

“What the f–!” Diaz menghambur keluar mobilnya penuh emosi.

Ia tidak peduli hujan yang mengguyur sekujur tubuhnya sampai basah kuyup dalam kejapan mata saja. Ingin rasanya ia menendang si Cielo yang berani-beraninya mengusik mood jeleknya sore ini.

WUSHHH!!!

Belum sempat Diaz membuka kap mobilnya, tiba-tiba ia terlonjak kaget melihat sebuah mobil yang tampak tidak terkendali melaju ke arahnya.

Mati gue!

Diaz yang terpaku hanya bisa memejamkan matanya ngeri. Setengah panik, setengah pasrah. Tidak menyangka hidupnya bakal sesingkat ini. Mobil itu sudah terlalu dekat dengannya…

Sedetik kemudian Diaz tidak merasakan apa-apa, selain rintik-rintik hujan. Tidak ada sakit dan nyeri di bagian badannya manapun. Ia sempat mengira ia sudah nyangkut di surga… atau di neraka? Tetapi pada saat yang bersamaan dengan kekalutannya itu, ia mendengar suara benturan yang cukup keras.

Ternyata mobil pink itu sudah nyangkut di trotoar. Bukan kecelakaan yang berarti, sih, tapi sayang bemper dan bagian bawah mobilnya. Cepat-cepat Diaz menghambur ke arah mobil Estillo pink itu, entah untuk mengecek keadaan atau mau ngamuk-ngamuk ama pengemudinya, gara-gara nyaris menjadikannya new comer di alam baka!

“Kamu nggak apa-apa?!! Maafkan saya. Saya–“

Sebelum Diaz sempat membuka pintunya, si pengemudi sudah menghambur keluar dari mobil ke arahnya. Kedua tangannya mencengkeram erat bagian depan t-shirt Diaz dengan wajah panik dan khawatir setengah mati.

Diaz bengong mendapati sosok yang menubruknya ini. Agak mungil, pake rok abu-abu selutut yang lumayan ketat, kemeja putih, cardigan warna pink, dan kaos kaki putih panjang. Rupanya hanya seorang anak SMA sialan!

“Maaf gimana?! Tadi kalo elo gak banting stir, nyawa gue udah melayang, tau?!! Bisa nyetir gak sih? SIM-nya nembak ya?! Dasar SMA!” bentak Diaz kepadanya. Padahal seingatnya, dulu waktu bikin SIM ia juga nembak kok–kemahalan lagi!

Cewek berseragam SMA ini tertunduk antara takut dan bingung menghadapi Diaz. Bukankah ia sudah minta maaf dan malahan sudah bela-belain banting stir ampe bagian bawah mobilnya penyok menghajar trotoar, biar nggak nabrak mobil cowok ini? Tapi kenapa dia masih emosi juga? Ia tidak tahu bagaimana membuat amarah cowok di hadapannya ini reda.

“Tadi mobilmu mogok ya? Tinggal di sini juga kan? Kuantar ke rumahmu dulu, ya, untuk ganti baju. Nanti kita betulin bareng,” tutur si SMA lagi. Suaranya begitu bening serta menyejukkan hati. Jadi gak enak hati Diaz dibuatnya, karena tadi ia sudah membentaknya sedemikian kasar.

“OK. Thanks…” Diaz menatapinya agak lama, sekalian curi-curi pandang meneliti makhluk mungil di hadapannya ini.

Lucu juga, kayak gulali yang sering dibelinya jaman masih TK dulu.

Yang diliatin malah menatapnya balik, lalu nyengir kuda, seperti tidak ambil pusing setelah mengalami kejadian yang cukup menakutkan itu. Sekarang gantian deh, Diaz yang salting dan kebingungan.

”Ngg… maafin gue, ya, tadi. Gue Diaz,” ucap Diaz kikuk sambil mengulurkan tangannya, seperti anak kecil yang ngajak baikan.

Si cewek SMA menyambutnya dengan jabatan yang hangat dan mantap. Sepertinya ia tipikal cewek yang ceria, easy-going, dan cukup percaya diri. Tipe cewek yang hidupnya selalu dibawa santai dan gak peduli ama masa depan. Lagi-lagi Diaz berusaha menghilangkan pikirannya yang macam-macam. Ah, anak SMA di mana-mana memang sok PD jeger!

“Aku Sisy. Maaf juga ya…” tatkala mereka berdua masih berjabat tangan, sebuah kata terucap ceria dari bibir mungil si SMA ini, ngebuat Diaz surprised.

Diaz memperhatikan si mungil yang berdiri basah kuyup sambil sesekali memeras bagian bawah seragamnya. Sisy? Oh, ini dia si little diva yang dihebohin melulu ama anak-anak beberapa hari belakangan ini. Cantik juga. Selera anak-anak kali ini boleh diacungin jempol, deh. Lumayan…

“Mobil elo gak apa-apa basah-basah begini?” Diaz bertanya ragu ketika baru membuka pintu Estillo pink itu.

“Nggak pa-pa,” Sisy masuk duluan, lalu mematikan AC-nya demi mereka berdua yang kepalang basah tidak sekalian masuk angin.

Di mobilnya Sisy, Diaz tidak berucap apapun. Apalagi Sisy sendiri nampak tidak berminat untuk mengobrol. Tapi, ia malah merasa malu banget di tengah keheningan yang membeku antara mereka berdua itu, apalagi saat mengingat-ingat kejadian barusan. Kok, bisa-bisanya ya ia seemosional itu pada Sisy?

Bener-bener awal yang bagus buat kenalan! pikir Diaz menyesal.

Harusnya ia bisa lebih menahan diri, mengendalikan emosinya untuk tidak mengumbar marah seperti yang tadi ia lakukan. Childish sekali. Toh, dirinya gak tertimpa kecelakaan sama sekali, kan? Kalau udah begini, pasti susah memulai pertemanan berikutnya. Padahal mereka, kan, tetangga sebelahan.

“Ngg, Diaz?” ucap Sisy pelan, sambil menoleh ragu ke arah cowok ini.

“Hei! Jangan nengok-nengok dulu, ntar mobil elo nyangkut lagi lho,” seru Diaz risih. “Duh! Kalau bisa gue yang nyetir, mending gantian deh. Sayangnya kalau pake Estillo, kaki gue pasti mentok. Sori!”

“E-eh?” Sisy menatap cowok ini tidak percaya. Walaupun terlihat dingin dan ketus, tapi sebenarnya ia baik. Perpaduan sifat yang ada pada cowok ini amat unik. Sisy dapat merasakannya.

“Kenapa ngeliatinnya kayak begitu sih?” kata Diaz lagi, ketika mendapati sepasang mata jernih itu seperti tengah menelanjanginya. “Elo kayaknya belon mahir nyetir ya? Kok bawa mobil segala sih? Buat gegayaan di sekolah? Malu ama temen-temen kalau nggak bawa mobil? Atau memang kebelet pengen nyetir karena udah SMA?”

Sisy menghela napas panjang. Ini pertanyaan, pernyataan, atau sindiran sih?

Cowok ini bener-bener galak dan tidak simpatik. Saat berbicara, seakan-akan ia ingin memarahi Sisy sepuas-puasnya sampai Sisy tidak dapat kesempatan untuk menjawabnya sedikit pun.

“Ngg…” Sisy bergumam pelan,”Mungkin… malu karena nggak bisa nyetir.” Ia sudah siap-siap mendengar bentakan cowok ini selanjutnya.

Sisy menyesali nasibnya hari ini. Andai saja tadi ia tidak melakukan kebodohan dengan hampir menabrak Diaz, tentunya ia nggak akan merasa bersalah. Dan buntut-buntutnya, sih, ia nggak akan bela-belain nemenin cowok aneh kayak begini.

Tapi yang Sisy dengar selanjutnya dari orang ini malah diluar dugaannya.

“Tidak apa-apa,” ucap Diaz, mengurai keruwetan di hati Sisy. “Tidak apa-apa kok, untuk nunjukin kelemahan kita.”

“Kamu…” Sisy ingin bertanya sesuatu, tetapi tidak satu pun kata-kata terangkai di bibirnya.

Diaz menoleh ke Sisy dan menatapnya lembut. Sangat lembut dan bertolak belakang dengan raut wajah yang sejak tadi Sisy perhatikan.

“Gue juga kadang-kadang begitu,” ucap Diaz lagi, lebih rileks. “Gue punya sepupu-sepupu yang menakjubkan. Berdiri di sebelah mereka ngebuat gue merasa bukan apa-apa, sehingga gue berusaha keras untuk menjadi sesuatu. Tapi… kadang-kadang gue lelah, dan ingin seperti ini saja.”

Bagi Sisy, cara Diaz mengucapkan kata ‘lelah’ sepertinya ia benar-benar lelah menjalani hidup, membuat Sisy takut sekaligus ingin tahu seperti apa kehidupan hari-harinya. Siapa gerangan orang ini… dengan paras bangsawan namun tatapan matanya begitu sendu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: