Michelle04's Blog

resensi novel

Posted on: December 15, 2009

Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: ScriPtaManent
Cetakan: I, Maret 2005
Tebal: 325 halaman
Beli di: Rumah Buku Alebene, Bandung

Sepanjang perburuan hampir satu tahun lamanya, saya tidak tahu bahwa
buku ini bergenre novel. Kenyataan itu baru terkuak setelah JSSP
berada di tangan, dalam arti dibuka plastiknya di rumah. Saya belum
tahu juga kala meraihnya dari sebuah etalase di outlet Lawang Buku.
Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat googling dan menyambangi blog
khusus resensi karya-karya Muhidin. Niatnya mencari wajah baru JSSP
karena begitu sukar mendapatkannya di toko buku (baca: Gramedia).
Ternyata kali ini GM Merdeka tidak keliru menempatkannya di rak novel.
Kendati hurufnya kecil-kecil menyiksa penglihatan, tidak dapat
disangkal bahwa buku ini enak dibaca. Seratus halaman berlalu dalam
sekedip, dan saya tergoda untuk meneruskannya setiap kali waktu
terluang atau ingin meregangkan benak dari aktivitas kerja. Betapa
tidak, setiap paragrafnya mengalir dan jarang sekali ditemukan
pengulangan kata – jika bukan atas nama keindahan ramuan kalimat. Hal
ini menunjukkan bahwa Muhidin pelahap buku yang rakus dan senantiasa
subur akan variasi diksi. Usai membaca profilnya di bagian muka, tak
urung timbul sangkaan bahwa novel ini merupakan memoar Muhidin
sendiri.
JSPP konon adalah sebentuk revisi dari “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak
Cinta”. Syukurlah judulnya diganti sehingga lebih melodius dan klop
dengan untaian ‘Manifesto Menulis’ di sampul depan, “Ingat-ingatlah
Kalian hai penulis-penulis belia, bila kalian memilih jalan sunyi ini
maka yang kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis,
terus bekerja, dan bersiap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian
terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak akan
berpikir untuk bunuh diri secepatnya.”
JSPP tak pelak suatu hidangan yang teramat unik. Selama ini,
pembahasan mengenai profesi penulis nyaris identik dengan gemebyar
pundi-pundi penuh royalti, popularitas yang hampir instan, dan
warna-warna cerah nan semarak lainnya. Karakter penulis dalam JSPP
mengungkap suatu warna lain yang pekat lagi kelam sepanjang
jatuh-bangunnya, usahanya untuk bertahan hidup, bahkan saya turut
menangis sambil tertawa getir kala si karakter membayangkan Karl Marx
menjelma dari rak bukunya. Judul-judul bab yang relevan kian
menjadikan buku ini sedap disimak.
Setelah membaca JSPP, kemampuan saya berbahasa gaul kian pudar. Terus
terngiang aneka kata di dalamnya, misalnya ‘bersicepat’. Inilah hasil
mengincar yang tidak sia-sia sama sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: